WHAT THE DIFFERENCES BETWEEN BALI CULTURE AND CENTRAL JAVA CULTURE

( in indonesia )



















BUDAYA BALI



1.      SISTEM BAHASA

Pulau Bali memiliki lima bahasa daerah. Bahasa Daerah yang dimiliki Provinsi Bali adalah:

Bali

Jawa

Madura

Melayu

Sasak Bali

 

Bahasa Bali adalah wahana budaya vocal masyarakat Bali, bahasa perolehan pertama (bahasa ibu) masyarakat Bali. Bahasa itu juga salah satu unsur budaya nasional bangsa Indonesia. Bagi rakyat Bali selain berfungsi sebagai alat komunikasi vocal, juga berfungsi sebagai penunjuk identitas rakyat Bali.

            Penutur bahasa Bali adalah masyarakat Bali dengan perkiraan jumlah tiga juta orang. Mereka berdiam terutama di wilayah Provinsi Bali. Di bebrapa wilayah Indonesia di luar Provinsi Bali, penutur bahasa Bali terdapat pula di Lombok Barat, di beberapa tempat transmigran orang Bali di pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Sumbawam dan Timor Timur. Penutur bahasa Bali umumnya penganut agama Hindu seperti yang dianut oleh masyarakat penutur bahasa Bali di wilayah Bali pada umumnya.

            Bahasa Bali sangat menarik sejumlah peneliti, baik peneliti asing, maupun peneliti bangsa Indonesia. Peneliti bangsa Indonesia terutama peneliti penutur bahasa Bali yang umumnya berdomisili di Bali.

 

Bahasa Bali

Bahasa Bali bisa dibilang bahasa daerah asli Pulau Bali. Bahasa yang berasal dari Provinsi Bali atau bahasa daerahnya Bali. Selain ada di Pulau Bali, bahasa daerah Bali ini juga menyebar ke daerah sekitar pulau Bali, Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur. Bahkan Bahasa Bali juga ada di Provinsi Lampung dan menyeberang hingga Sulawesi Tenggara dan Kalimantan Tengah.

Dialek Bahasa Bali ada dua jenis, dialek Bali Aga/Bali Mula dan dialek Bali dataran.

Dialek Bali Aga , Bahasa Bali dialek Aga artinya Bahasa Bali yang dituturkan oleh masyarakat Bali yang ada di dataran tinggi Pulau Bali.

Dialek Bali Dataran , Sedangkan Bahasa Bali dialek Dataran sebaliknya. Penuturnya adalah penduduk Bali yang berada di dataran rendah Pulau Dewata. Kota Denpasar sebagai ibu kota Provinsi Bali menggunakan dialek Bali Dataran.

Bahasa Jawa , Karena dekat dengan pulau terpadat di Indonesia, jelas sekali Bahasa Jawa sangat memengaruhi bahasa di Bali. Kabupaten Buleleng adalah salah satu tempat Bahasa Jawa dituturkan. Antara Bahasa Jawa bali dengan Bahasa Jawa di Pulau jawa perbedaannya sampai 51%. Terlebih dengan dialek Bahasa Jawa Solo-Yogya.

Bahasa Madura , Pulau Madura adalah bagian Provinsi Jawa Timur. Letaknya juga tidak jauh dari Pulau Bali. Tidak heran kalau bahasa Madura menjadi bagian bahasa daerah Bali. Penutur bahasa Madura di Bali ada di Kabupaten Buleleng.

Bahasa Melayu , Istilah bahasa daerah melayu yang tepat untuk pulau Bali adalah bahasa Melayu Loloan. Penutur bahasa Melayu Loloan di Bali ada di kecematan Loloan Barat, Kabupaten Jembrana.

Bahasa Sasak , Pulau Bali tidak jauh dari Pulau Lombok. Tidak heran bahasa Sasak menjadi bagian bahasa daerah Bali. Menariknya, ada dua dialek bahasa Sasak di Bali, dialek Bukit Tabuan dan dialek Celukan Bawang.

gs        Fungsi Bahasa Bali

Fungsi bahasa Bali – seperti halnya fungsi-fungsi bahasa daerah yang dirumuskan dalam polotik bahasa nasional (Halim (edit.) 1976 : 146 ) – adalah lambing kebanggaan daerah Bali, identitas daerah Bali, pendukung bahasa nasional Indonesia, alat penghubung dalam keluarga etnik Bali, bahasa pengantar di sekolah-sekolah dalam kelas tertentu, dan juga alat pengembangan kebudayaan Bali. Bahasa Bali sebagai pendukung bahada nasional Indonesia berfungsi untuk mengembangkan kosa kata bahasa Indonesia. 

 

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa Agama Hindu masuk ke Bali pada mulanya melalui media bahasa Sanskerta kemudian sejak pemerintahan Mahendradattagunapriyadharmapatni (permaisuri raja Dharmodayana Varmedeva), maka bahasa Jawa Kuno menggantikan media berbagai susastra Hindu dan hal ini tampak pengaruhnya terhadap bahasa Bali dewasa ini. Dalam mantra stuti masih menggunakan bahasa Sanskerta4.

 

2.      SISTEM PENGETAHUAN

 Media bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno masyarakat Bali memiliki berbagai sistem pengetahuan yang bersumber dari Agama Hindu dan budaya India, antara lain sistem pengobatan (ausadha), pembangunan rumah (hastakosalakosali dan hastabhumi) dan lain-lain.

Banjar atau bisa disebut sebagai desa adalah suatu bentuk kesatuan-kesatuan social yang didasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan social tersebut diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara keagamaan. Banjar dikepalahi oleh klian banjar yang bertugas sebagai menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dan keagamaan,tetapi sering kali juga harus memecahkan soal-soal yang mencakup hukum adat tanah, dan hal-hal yang sifatnya administrasi pemerintahan.

 

3.      SISTEM ORGANISASI SOSIAL


Pada prasasti-prasasti Bali Kuno sebelumnya disebut adanya sistem pemerintahan serta adanya lembaga kerajaan yang disebut  panglapuan, paramaksa, samohanda, dan senapati di panglapuan. Sejak tahun 1001 Masehi, lembaga tersebut dinamakan pakira-kira i jero makabehan yang anggotanya terdiri dari para senapati (panglima perang) dan para pandita Siva dan Buddha (Ardana, 1982:31), demikian pula sistem pemerintahan di pedesaan seperti adanya karaman, thani, dan dalam perkembangan selanjutnya di Bali dikenal adanya tipe desa kuno dengan sistem pemerintahnan Mauluapad dan sistem pemerintahan yang dipimpin  oleh raja atau para Punggawa.

a.      Perkawinan

Rangkaian tahapan pernikahan adat Bali adalah sebagai berikut :

Ø  Upacara Ngekeb

Acara ini bertujuan untuk mempersiapkan calon pengantin wanita dari kehidupan remaja menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga memohon doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bersedia menurunkan kebahagiaan kepada pasangan ini serta nantinya mereka diberikan anugerah berupa keturunan yang baik.

 

Setelah itu pada sore harinya, seluruh tubuh calon pengantin wanita diberi luluran yang terbuat dari daun merak, kunyit, bunga kenanga, dan beras yang telah dihaluskan. Di pekarangan rumah juga disediakan wadah berisi air bunga untuk keperluan mandi calon pengantin. Selain itu air merang pun tersedia untuk keramas.

 

Sesudah acara mandi dan keramas selesai, pernikahan adat Bali akan dilanjutkan dengan upacara di dalam kamar pengantin. Sebelumnya dalam kamar itu telah disediakan sesajen. Setelah masuk dalam kamar biasanya calon pengantin wanita tidak diperbolehkan lagi keluar dari kamar sampai calon suaminya datang menjemput. Pada saat acara penjemputan dilakukan, pengantin wanita seluruh tubuhnya mulai dari ujung kaki sampai kepalanya akan ditutupi dengan selembar kain kuning tipis. Hal ini sebagai perlambang bahwa pengantin wanita telah bersedia mengubur masa lalunya sebagai remaja dan kini telah siap menjalani kehidupan baru bersama pasangan hidupnya.

 

Ø  Mungkah Lawang (Buka Pintu)

Seorang utusan mungkah lawang bertugas mengetuk pintu kamar tempat pengantin wanita berada sebanyak tiga kali sambil di iringi oleh seorang  malat yang menyanyikan tembang bali. Isi tembang tersebut adalah pesan yang mengatakan jika pengantin pria telah datang menjemput pengantin wanita dan memohon agar segera dibukakan pintu.

 

Ø  Upacara Mesegehagung

Sesampainya kedua pengantin di pekarangan rumah pengantin pria,keduanya turun dari tandu untuk bersiap melakukan upacara Mesegehagung yang tak lain bermakna sebagai ungkapan selamat datang kepada pengantin wanita. Kemudian keduanya ditandu lagi menuju kamar pengantin. Ibu dari pengantin pria akan memasuki kamar tersebut dan mengatakan kepada pengantin wanita bahwa kain kuning yang menutupi tubuhnya akan segera dibuka untuk ditukarkan dengan uang kepeng satakan yang ditusuk dengan tali benang Bali dan biasanya berjumlah dua ratus kepeng.

 

Ø  Madengen-dengen

Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri atau mensucikan kedua pengantin dari energy negative dalam diri keduanya. Upacara dipimpin oleh seorang pemangku adat atau Balian.

 

Ø  Mewidhi Widana

Dengan memakai baju kebesaran pengantin, mereka melaksanakan upacara Mewidhi Widana yang dipimpin oleh seorang Sulingguh atau Ida Peranda. Acara ini merupakan penyempurnaan pernikahan adat bali untuk meningkatkan pembersihan diri pengantin yang telah dilakukan pada acara-acara sebelumnya. Selanjutnya, keduanya menuju merajan yaitu tempat pemujaan untuk berdoa mohon izin dan restu Yang Kuasa. Acara ini dipimpin oleh seorang pemangku merajan.

 

Ø  Mejauman Ngabe Tipat Bantal

Beberapa hari setelah pengantin resmi menjadi pasagan suami istri, maka pada hari yang telah disepakati kedua belah keluarga akan ikut mengantarkan kedua pengantin pulang ke rumah orang tua pengantin wanita untuk melakukan upacara mejamuan. Acara ini dilakukan untuk memohon pamit kepada kedua orang tua serta sanak keluarga pengantin wanita,terutama kepada para leluhur, bahwa mulai saat itu pengantin wanita telah sah menjadi bagian dalam keluarga besar suaminya. Untuk upacara pamitan ini keluarga pengantin pria akan membawa sejumlah barang bawaan yang berisi berbagai panganan kue khas Bali seperti kue bantal, apem, alem, cerorot, kuskus, nagasari, kekupa, beras, gula, kopi, the, sirih, pinang,bermacam buah-buahan serta lauk pauk khas Bali.

                                        

 

4.      SISTEM PERALATAN HIDUP

                       Di samping sistem yang peralatan hidup yang merupakan produk asli Bali, sejak zaman prasejarah sudah pula memakai peralatan yang berasal dari luar, misalnya dapat dilihat dari tinggalan gerabah Arikamedu dari India Selatan yang rupanya sudah berlangsung sejak awal abad Masehi.

            DiBali terdapat sekitar 1.482 subak dan subak abian sekitar 698. Subakmerupakan salah satu lembaga tradisional yang merupakan satu kesatuan parapemilik atau penggarap sawah yang menerima air irigasi dari satu sumber airatau bendungan tertentu. Subak adalahsatu kesatuan ekonomi, sosial dankeagamaan. Jenis kendaraan umum di Bali antara lain:Dokar, kendaraan dengan menggunakan kuda sebagai penarikOjek, taksi sepeda motorBemo, melayani dalam dan antarkotaTaksiKomotra, bus yang melayani perjalanan ke kawasan pantai Kuta dan sekitarnyaBus, melayani hubungan antarkota, pedesaan, dan antarprovinsi

 

a). Perkawinan

                       Penarikan garis keturunan dalam masyarakat Bali adalah mengarah pada patrilineal. System kasta sangat mempengaruhi proses berlangsungnya suatu perkawinan, karena seorang wanita yang kastanya lebih tinggi kawin dengan pria yang kastanya lebih rendah tidak dibenarkan karena terjadi suatu penyimpangan, yaitu akan membuat malu keluarga dan menjatuhkan gengsi seluruh kasta dari anak wanita.

Di beberapa daerah Bali ( tidak semua daerah ), berlaku pula adat penyerahan mas kawin ( petuku luh), tetapi sekarang ini terutama diantara keluarga orang-orang terpelajar, sudah menghilang.

 

b). Kekerabatan

                       Adat menetap diBali sesudah menikah mempengaruhi pergaulan kekerabatan dalam suatu masyarakat. Ada macam 2 adat menetap yang sering berlaku diBali yaitu adat virilokal adalah adat yang membenarkan pengantin baru menetap disekitar pusat kediaman kaum kerabat suami,dan adat neolokal adalah adat yang menentukan pengantin baru tinggal sendiri ditempat kediaman yang baru. Di Bali ada 3 kelompok klen utama (triwangsa) yaitu: Brahmana sebagai pemimpin upacara, Ksatria yaitu : kelompok-klompok khusus seperti arya Kepakisan dan Jaba yaitu sebagai pemimpin keagamaan.

 

c). Kemasyarakatan

                       Desa, suatu kesatuan hidup komunitas masyarakat bali mencakup pada 2 pengertian yaitu : desa adat dan desa dinas (administratif). Keduanya merupakan suatu kesatuan wilayah dalam hubungannya dengan keagamaan atau pun adat istiadat, sedangkan desa dinas adalah kesatuan admistratif. Kegiatan desa adat terpusat pada bidang upacara adat dan keagamaan, sedangkan desa dinas terpusat pada bidang administrasi, pemerintahan dan pembangunan.

5.      SISTEM MATA PENCAHARIAN


                       Pada masa prasejarah hingga dewasa ini rupanya pertanian yang kemudian berkembang dalam arti luas termasuk perkebunan walaupun merupakan hal yang sangat universal, pengaruh Agama Hindu tampak dari semua sistem pencaharian itu dikaitkan dengan Agama Hindu, artinya dalam memenuhi kebutuhan hidup senantiasa dikaitkan dengan pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini tampak hingga dewasa ini sistem pengairan yang sangat terkenal yakni Subak selalu dikaitkan dengan Agama Hindu, misalnya disetiap mata air dan di tempat pembagian air dibangun pura Ulunsui, Bedugul, dan sebagainya.

Mata pencarian penduduk beraneka ragam yang meliputipekerjaan sebagai petani, pengerajin, pedagang dan berbagai jasakhususnya bidang kepariwisataan. Pertanian merupakan matapencarian pokok masyarakat dan sebagian besar masyarakat baliadalah petani. Jenis pertanian meliputi pertanian sawah danperkebunan. Didalam system pertanian di bali subak memegangperanan yang sangat penting.

 

6.      SISTEM RELIGI

                       

                Sebagian besar masyarakat di Bali menganut agama Hindu yang memiliki kerangka dasar meliputi tiga hal yaitu tatwa (filsafat), tata susila, dan upacara. Agama hindu berdasarkan pada kitab suci Wedha, yang keseluruhannya dihimpun dalam empat samhita, yaitu Reg Wedha Samhita, Sama Wedha Samhita, Yayur Wedha Samhita, dan Atharwa Wedha Samhita. Pada hakikatnya ajaran agama hindu adalah panca cradha yang artinya lima keyakinan , yaitu:

a.       Widi Cradha adalah keyakinan terhadap Sang Hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa.

b.      Atma Cradha adalah keyakinan akan adanya atman atau  jiwa pada setiap makhluk.

c.       Karma Phala Cradha adalah keyakinan terhadap hukum perbuatan.

d.      Purnabhawa Cradha adalah keyakinan terhadap adanya reinkarnasi atau kelahiran kembali setelah kematian.

e.       Moksa Cradha adalah keyakinan terhadap moksa yaitu kebahagiaan yang kekal abadi.

 

                       Ketika Agama Hindu masuk ke Bali, masyarakat Bali saat itu telah menganut kepercayaan kepada roh suci leluhur, adanya penguasa alam, dan gunung-gunung yang dianggap suci. Agama Hindu yang memiliki keyakinan (Sraddha) yang sama dengan kepercayaan setempat, yakni Pitrapuja (pemujaan kepada roh suci leluhur) mudah saja diterima oleh masyarakat Bali saat itu. Dan hal tersebut berlangsung hingga saat ini. Kedatangan Agama Hindu ke Bali tidak mengubah kepercayaan setempat tetapi memberikan pencerahan dengan lebih mengembangkan kepercayaan setempat.

Pemujaan kepada penguasa tertinggi masyarakat Terunyan yakni Da Tonta berupa arca batu megalitik, dipermulia dengan menempatkan kata Bhattara pada nama sebelumnya dan kemudian disemayamkan pada bangunan Meru. Hal ini dapat diketahui antara lain dari prasasti Terunyan yang berasal dari 818 Saka (896 M), isinya tentang pemberian ijin kepada nanyakan pradhana dan bhiksu agar membangun  sebuah kuil untuk Hyang Api di desa Banua Bharu. Prasasti lainnya berasal dari tahun 813 Saka (891 M) isinya tentang pemberian ijin kepada penduduk desa Turuñan untuk membangun kuil bagi Bhatara Da Tonta. Oleh karena itu mereka dibebaskan dari beberapa jenis pajak, tetapi mereka ini dikenakan sumbangan untuk kuil tadi. Beberapa jenis pajak harus dibayar setiap bulan Caitra dan Magha, pada hari kesembilan (mahanavami). Bila ada utusan raja datang menyembah (sembahyang) pada bulan Asuji, mereka harus diberi makanan dan sebagainya (Sartono, 1976:136). Dalam prasasti itu juga menyebutkan haywahaywan di magha mahanavami (Goris, 1954:56). Dalam bahasa Bali dewasa ini kata mahaywahaywa (dari kata mahayu-hayu) berarti merayakan. Haywahaywan di magha mahanavami berarti perayaan Magha Mahanavami. Di India Mahanavami identik dengan Dasara yakni hari pemujaan ditujukan kepada para leluhur (Dubois, 1981:569). Swami Sivananda (1991:8) mengidentikkan  Dasara dengan Durgapuja yang dirayakan dua kali setahun, yakni Ramanavaratri atau Ramanavami pada bulan Caitra, dan Durganavaratri atau Durganavami pada bulan Asuji (September-Oktober). Perayaan ini disebut juga Wijaya Dasami atau Sraddha Wijaya Dasami (hari pemujaan kepada leluhur dan perayaan kemenangan selama sepuluh hari). Hari raya ini di Bali (dirayakan dua kali dalam setahun) dikenal dengan nama Galungan yang hakekatnya adalah Durgapuja atau Sraddha Vijaya Dasami (hari pemujaan kepada leluhur dan perayaan kemenangan selama sepuluh hari) yang dirayakan secara besar-besaran sejak Gunapriyadharmapatni di-dharma-kan sebagai Durgamahisasuramardhini di pura Kedharma Kutri, Blahbatuh, Gianyar5.Beberapa hari raya Hindu di India dipribhumikan ke dalam bahasa lokal antara lain Ayudhapuja di Bali disebut Tumpek Landep, Pasupatipuja disebut Tumpek Uye, dan Sankarapuja disebut Tumpek Pengarah. Yatra disebut Melis, Makiyis, atau Melasti dan beberapa persembahan seperti puja disebut daksina, jajan dari beras berlobang di India selatan disebut Kalimaniarem, di Bali disebut Kaliadrem6 dan sebagainya. Karena adanya persamaan dalam keyakinan dengan religi prasejarah, maka masyarakat Bali saat itu tidak kesulitan dalam memeluk Agama Hindu yang ajarannya telah terdokumentasi dalam bentuk tulisan atau dibawa oleh para pandita.

 

 

7.      SISTEM KESENIAN

                       Sistem ini (kesenian Bali) walaupun tidak bisa dirunut asalnya secara pasti namun adanya pertunjukkan wayang kulit yang oleh Brandes disebut sebagai kesenian asli Indonesia, di India selatan kita jumpai seni yang disebut Kathakali yang mirip dengan wayang kulit yang dipentaskan baik malam maupun siang hari (seperti wayang lemah), demikian pula pementasan cerita Ramayana, dan Bhimakumara seperti disebutkan dalam prasasti Jaha di Jawa Tengah bersumber kepada Ramayana dan Mahabharata yang di India disebut Ramalila dan Mahabharatalila atau Krishnalila. Beberapa tari lepas di Bali tampak seperti Bharatnatyam di India. Dalam seni arsitektur, struktur bangunan yang disebut Meru dapat dijumpai di Nepal dan di India utara7.

            1) Seni Bangunan

                       Seni bangunan nampak pada bangunan candi yang banyak terdapat di Bali, seperti Gapura Candi Bentar.

2) Seni Tari


                       
Tari tradisional Bali antara lain tari sanghyang, tari barong, tari kecak, dan tari gambuh. Tari modern antara lain tari tenun, tari nelayan, tari legong, dan tari janger.

3) Pakaian daerah


                       Pakaian daerah Bali sangat bervariasi, meskipun bentuknya hampir sama. Masing-masing daerah memiliki ciri khas simbolik dan ornamen yang didasarkan kepada kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dari seseorang juga dapat diketahui berdasarkan corakbusana dan ornamen perhiasan yang dipakai

Busana tradisional pria umumnya terdiri dari:

a. Udeng (ikat kepala)

b. Kain kampuh

c. Umpal (selendang pengikat)

d. Kain wastra (kemben)

e. Sabuk

f. Keris

g.  Beragam ornamen perhiasan

Sering pula dikenakan baju kemeja, jas dan alas kaki sebagai pelengkap.

Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:

a.  Gelung (sanggul)

b. Sesenteng (kemben songket)

c. Kain wastra

d. Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada

e. Selendang songket bahu ke bawah

f. Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam

g.  Beragam ornamen perhiasan

Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.

 

4) Rumah Adat

 

Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China)

Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan dan parahyangan. Untuk itu pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut Tri Hita Karana. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya.

                       Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.

 

 



BUDAYA JAWA TENGAH

1.     Sistem bahasa

Jawa di jaman dahulu merupakan sebuah wilayah yang memiliki peradaban yang tinggi, buktinya banyak kerajaan yang berpusat di Pulau Jawa. Baik itu kerajaan hindu maupun kerajaan Islam. Mungkin kalian pernah dengar, tentang kemasyhuran Majapahit, sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa yang memiliki kekuasaan sampai Malaysia bahkan Filipina. Di era selanjutnya ketika para penjajah memasuki wilayah Indonesia, yang dijadikan tempat atau pusat pemerintahan Hindia-Belanda lagi-lagi Pulau Jawa. Jawa juga dijadikan sebagai pusat pergerakan kemerdekaan, serta pusat pemerintahan pasca jaman penjajahan.

Tiga bahasa utama yang dipertuturkan di Jawa adalah bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa Madura. Namun, sebagian besar penduduk adalah orang dwibahasa, yang bisa bahasa Indonesia baik sebagai bahasa pertama maupun kedua.

 

1.     bahasa Jawa di Jawa Tengah terdiri dari lima dialek. Ada dialek Solo-Yogya, dialek Pekalongan, dialek Wonosobo, dialek Banyumas, dan dialek Tegal. Perbedaan kelima dialek itu sekitar 60 persen.

2.    Jawa Barat, bahasa Jawa dibagi menjadi tiga dialek yaitu dialek Pantai Utara, dialek Cirebon, dan dialek Ciamis. Menurut perhitungan dialektometri, persentase perbedaan ketiga dialek ini adalah 51-60,75 persen.

3.    Bahasa Jawa di Yogyakarta. Isolek Jawa yang dituturkan di Yogyakarta dibandingkan dengan bahasa Jawa wilayah lainnya memiliki perbedaan dialek sekitar 51-80 persen dan perbedaan subdialek berkisar 31-50 persen.

4.    Bahasa Jawa yang dituturkan di Jawa Timur terbagi atas empat dialek, yaitu dialek Jawa Timur, dialek Osing, dialek Tengger, dan dialek Solo-Yogya. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, perbedaan keempat dialek itu berkisar 52-64 persen.

5.    Bahasa Jawa yang ada di Banten terdiri dari dua dialek, yaitu dialek Pantai Utara dan dialek Cikoneng. Menurut penghitungan dialektometri, persentase perbedaan kedua dialek tersebut sebesar 55 persen.

 

2.    Sistem pengetahuan

bentuk sistem pengetahuan yang ada, berkembang, dan masih ada hingga saat ini adalah bentuk penanggalan atau kalender. Bentuk kalender Jawa menurut kelompok para ahli, adalah salah satu bentuk pengetahuan yang maju dan unik yang berhasil diciptakan oleh para masyarakat Jawa kuno, karena penciptaanya yang terpengaruh unsur budaya islam, Hindu-Budha, Jawa Kuno, dan sedikit adanya pengaruh budaya barat.

 

3.    Sistem organisasi sosial/ kemasyarakatan

Dalam sistem kemasyarakatan Jawa, dikenal 4 tingkatan yaitu Priyayi, Ningrat atau Bendara, Santri dan Wong Cilik.

·         Ningrat atau Bendara merupakan masyarakay dengan kelas tinggi di masyarakat Jawa.

·         Lalu ada Priyayi yang merupakan kaum pendidik dan terdidik di masyarakat Jawa. Kata priyayi ini didapat dari kata bahasa Jawa, yaitu “para” dan “yayi” atau yang berarti para kaum terdidik.

·         Santri merupakan golongan masyarakat Jawa yang taat pada aturan agama dan para santri ini belajar tentang agama islam di pondok-pondok yang memang kebayakan tersebar di pulau Jawa ini.

·         Wong cilik atau golongan adalah masyarakat biasa yang memiliki kasta terendah dalam pelapisan sosial.

 

4.    Sistem kekerabatan.

Sistem kekerabatan masyarakat Jawa di dasarkan pada garis keturunan dari ke dua belah pihak ayah dan ibu. Sistem kekerabatan di Jawa antara lain Seorang ego mempunyai dua orang kakek dan dua orang nenek, Suku Jawa mengenal keluarga luas (kindred),Hak dan kedudukan anak laki-laki dan perempuan sama dimata hukum.

 

5.    Sistem peralatan hidup dan teknologi.

·         Sistem bangunan



Ada beberapa  jenis rumah yang dikenal oleh masyarakat suku Jawa, diantaranya adalah rumah limasan, rumah joglo, dan rumah serotong. Umumnya rumah di daerah Jawa menggunakan bahan batang bambu, glugu (batang pohon nyiur), dan kayu jati sebagai kerangka atau pondasi rumah. Sedangkan untuk dindingnya, umum digunakan gedek atau anyaman dari bilik bambu, seiring dengan perkembangan zaman, banyak juga yang telah menggunakan dinding dari tembok. Atap pada umumnya terbuat dari anyaman kelapa kering (blarak) dan banyak juga yang menggunakan genting.

·         Transportasi

A.    Kapal Jung Jawa adalah teknologi kapal raksasa buatan orang –orang jawa.Berdasarkan relief kapal di Candi Borobudur membuktikan bahwa sejak dulu nenek moyang kita telah menguasai teknik pembuatan kapal.

B.    Andong merupakan salah satu kendaraan tradisional masyarakat Jawa umumnya andong merupakan warisan budaya yang mempunyai ciri khas yang masih digunakan sampai sekarang. Andong di Solo difungsikan sebagai alat transportasi pengangkut barang-barang dagangan ibu-ibu dari pedesaan menuju pasar-pasar tujuan. Selain berfungsi sebagai media pengangkut barang dagangan pasar.

6.    Logam

Sistem peralatan hidup yang berasal dari kebudayaan Jawa yaitu salah satunya keris. Keris merupakan salah satu  kecanggihan teknologi penempaan logam Teknologi logam sudah lama berkembang sejak awal masehi di nusantara.

 

7.    Sistem Ekonomi/Mata pencaharian

Pertanian merupakan sektor utama perekonomian Jawa Tengah, di mana mata pencaharian di bidang ini digeluti hampir separuh dari angkatan kerja terserap. Kawasan hutan meliputi 20% wilayah provinsi, terutama di bagian utara dan selatan. Daerah RembangBloraGrobogan merupakan penghasil kayu jati. Jawa Tengah juga terdapat sejumlah industri besar dan menengah. Daerah Semarang-Ungaran-Demak-Kudus merupakan kawasan industri utama di Jawa Tengah. Kudus dikenal sebagai pusat industri rokok. Di Cilacap terdapat industri semenSoloPekalongan, Juwana sebagai kota Batik yang kental dengan nuansa klasik. Dan Salah satu yang paling menonjol dibandingkan mata pencaharian lain, karena seperti yang kita tahu, baik Jawa Tengah dan Jawa Timur banyak lahan-lahan pertanian yang beberapa cukup dikenal, karena memegang peranan besar dalam memasok kebutuhan nasional, seperti padi, tebu, dan kapas. Tetapi orang Jawa juga terkenal tidak memiliki bakat yang menonjol dalam bidang industri dan bisnis seperti halnya keturunan etnis tionghoa. 

8.    Sistem religi

Agama yang dianut oleh masyarakat di Indonesia ada islam, Kristen, katholik, hindu, buddha, dan Konghucu. Tetapi sebelum agama-agama tersebut berkembang, masyarakat Jawa sudah terpengaruh dengan ajaran agama Hindu dan buddha lalu berkembanglah agama yang lainnya. Ajaran agama Hindu dan buddha ini membawa pengaruh yang besar seperti adanya candi Borobudur dan candi Prambanan.

 

9.    Kesenian.

Kesenian pada kebudayaan Jawa sangat beraneka ragam, mulai dari tari-tarian, lagu daerah, wayang orang, dan juga wayang kulit, serta masih ada berbagai macam kesenian lainya.

·         Seni Bangunan

Bentuk bangunan candi merupakan perkembangan bentuk seni ”Cungkup” dengan mengenalkan bentuk dasar “meru” yaitu penggayaan bentuk gunung Mahameru atau gunung Himalaya sebagai tempat bersemayam para dewa. Lalu ada pada atap joglo yang berbentuk meru atau pada saat atap meru disusun memiliki sebutan tumpang dan memiliki sokoguru di dalamnya.

·         Seni Batik

Seperti yang kita tahu bahwa batik merupakan salah satu bukti warisam budaya di Indonesia dan masyarakat Jawa pun memiliki motif-motif tersendiri dan memiliki keunikan batik corak Banyumasan , batik corak Wonogiri, batik corak Mataram, batik corak Lasem dan sebagainya. Di Jawa Timur juga muncul beberapa corak batik seperti batik corak Ponorogo, Tulungagung dan lain-lainnya.

·         Seni Tari

Seni tari tradisional masyarakat Jawa adalah Srimpi, Bedaya, Gambyong, Wireng, Prawirayuda, Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. Yang khusus di Mangkunegaran disebut Tari Langendriyan, yang mengambil ceritera Damarwulan, Tari Bondan, Tari Topeng, Kuda Lumping (Jaran Kepang) dari Temanggung, Lengger dari Wonosobo.

·         Wayang



Lalu ada wayang yang merupakan kesenian budaya masyarakat Jawa, dan wayang juga menjadi salah satu media untuk menyebarkan agama Islam oleh salah satu anggota wali songo. Tetapi wayang ini sudah hadir sebelum masuknya kebudayaan Hindu dan pada zaman Neolitikum pertunjukan wayang awalnya terdiri atas upacara-upacara keagamaan yang berlangsung di malam hari untuk persembahan kepada “Hyang”. Jenis wayang ada 2 yaitu wayang kulit dan wayang wong.

 

 

Komentar

Postingan Populer